Call Us : 0822-1604-6700

Menerapkan Kepemimpinan Bisnis Ala Nabi Muhammad SAW (Bagian Satu)

Hari ini adalah hari yang sangat memberi inspirasi bagi saya pribadi, karena permasalahan bisnis yang sedang terjadi terjawab sudah yaitu mengenai kepemimpinan bisnis dan memanage sumber daya manusia di zaman sekarang yang sangat dinamis, Pengaruh dunia teknologi yang berkembang pesat khususnya di dunia digital bukan saja mengubah gaya atau cara pemasaran saja tapi ternyata mengubah drastis gaya berkerja orang di suatu tempat.

Allah sudah mentakdirkan saya untuk hadir di acara seminar TDA Bandung hari ini yang berjudul “Pemimpin yang Melayani : meneladani kepemimpinan Rasulullah” yang di bawakan oleh presiden komunitas Tangan Di Atas (TDA) bapak Fauzi Rachmanto , DI tulisan kali ini saya ingin berbagi inspirasi apa yang saya dapatkan , jadi saya hanya mengulas inti dari seminar tersebut., sebagai berikut :

Umat islam mengalami rabun dekat dalam kepemimpinan bisnis, umat islam banyak mencontoh cara cara kepemimpinan di eropa , amerika dll , tapi tidak menyedari bahwa nabi umat islam sendiri yaitu Muhammad SAW adalah pemimpin yang sangat hebat dan bisa dicontoh dan tentunya bisa  diterapkan dalam bisnis. Di seminar tersebut bukanlah membahas tentang sirah nabawaiyah tapi hanya mengambil / mengulas hikmah apa yang di lakukan Rasulullah sangatlah bisa diterapkan dalam dunia kepemimpinan bisnis. Hal tersebut di akui oleh bapaknya motivator dunia yaitu Napoleon Hill dalam buku yang berjudul “Think and Grow Rich” , di chapter 9 tentang bab persisten , di sana di bahas kekaguman Napoleon hill kepada Nabi Muhammad dan dijadikan studi kasus atau inspirasi dalam bukunya para motivator tersebut (sayang di edisi yang baru bab 9 tersbut di ganti oleh Bill gates sebagai contohnya , padahal di edisi yang original awalnya adalah Nabi Muhammad SAW)

Dalam tantangan kepemimpinan bisnis ini ada 3 hal yang fundamental yang harus jelas dan kuat yaitu mengenai arah (direction), Strategi dan aksi (action) dan masing masing di dalamnya ada poin poin penting  lagi yang harus di perjelas. Untuk arah atau direction yang harus di perhatikan dan di perjelas adalah visi , misi dan values. Kadang orang hanya fokus pada visi dan misi, dan lupa terhadap values perusahaan. Ketiga hal ini harus di perjelas dengan kuat dan bisa di transfer ke seluruh organisasi dan ke setiap generasi. Beliau mencontohkan ada perusahaan properti yang cukup besar mengalami masalah dalam transfer values kepada generasi kedua , ketiga perusahaan tersebut. Di generasi pertama values perusahaan adalah menjadi perusahaan properti yang inovatif dan selalu jadi pionir, tapi di generasi ketiga perusahaan tersebut menjadi pengekor perusahaan lain, yang dulunya selalu yang terdepan dalam hal inovasi.

Yang kedua mengenai strategi, dalam strategi yang harus di perhatikan adalah , sumber daya , sistem dan team. Kemudian yang ketiga mengenai action, dan poin ini lah yang sekarang menjadi fokus bahasan di seminar. Karena kadang arah sudah jelas, strategi sudah jelas tapi di aksi lah yang kadang sulit di lakukan, ada 3 hal yang harus di perhatikan yaitu , kompetensi , disiplin dan kerjasama.

Di level aksi ini sangat tergantung pada sumber daya manusia (sdm) dalam melaksanakannya di lapangan. Sdm saat ini (kelahiran di atas tahun 80an generasi y atau why) jauh berbeda karakternya dengan orang orang yang lahir di bawah tahun 80an (generasi x). teknologi sangat mempengaruhi hal ini, dimana fenomena selfie hadir di usia atau generasy why yang tidak ada pada generasi x. Sebuah bisnis atau perusahaan sekarang di hadapkan pada generasi why yang kritis, dinamis dan susah dikendalikan. Dengan dunia informasi yang terbuka sekarang ini generasi why susah di atur dan cenderung ingin di layani , mereka selalu bertanya apa yang saya akan dapatkan jika melakukan ini itu, bahkan generasi why yang memiliki skill cenderung suka melawan atasan, misal jika di tegur mereka cendrung menantang silahkan saya di pecat saja, bapak pecat saya pagi ini , sore saya bisa dapet kerja lagi.

Generasi yang kadang semau dan seenak sendiri. Generasi why ini cenderung ingin selalu di tunjukan cara praktisnya dan sulit untuk di arahkan untuk mencari dan belajar sendiri selalu ingin serba praktis. Maka cara cara coaching untuk mereka lebih efektif saat ini di banding cara controling. SDM yang berskill hebatpaun kadang tidak menghasilkan performance yang baik jika pertanyaan mereka mengenai “apa yang saya dapatkan jika melakukan ini” belum terjawab, inilah generasi yang egois dan perhitungan. Ternyata saat ini permasalahan SDM seperti ini di alami hampir semua perusahann baik yang sudah besar ataupun kecil. Di seminar inilah di bahas bagaimana memimpin generasi why ini dengan cara apa yang di lakukan Rasulullah dengan nama servant leadership (kepemimpinan dengan cara melayani). Bahasan ini saya akan lanjut di part dua yah, ada empat point penting dalam hal ini yang bisa kita terapkan dalam bisnis, dan empat hal ini lah yang di lakukan rasulullah dalam kepemimpinanya di masa lalu. Dan jika ini di terapkan maka akan menjadi solusi ampuh untuk permasalah permasalahan yang di uraikan di atas.

Comments

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.